Sunday, October 26, 2025

Kisah Elmi Sumarni Ismau, Perempuan NTT yang Mengubah Difabel Menjadi Jiwa-Jiwa yang Berdaya

Hari ini kita tidak akan berbicara tentang objek wisata seperti biasanya, karena ada satu kisah inspiratif yang ingin aku bagi dengan kalian.

Bukan tentang pemandangan alam atau tempat liburan yang instagramable, tetapi tentang seseorang Elmi Sumarni Ismau, perempuan asal NTT yang mendedikasikan hidupnya untuk memberdayakan penyandang disabilitas.

Bukan sekadar membantu, tetapi mengubah mereka menjadi jiwa-jiwa yang berdaya dan percaya pada dirinya sendiri.

Bagi Elmi, difabel bukanlah “kasus sosial” yang perlu dikasihani, melainkan manusia dengan potensi yang sering kali terhalang oleh stigma. Dan dari situlah perjalanannya dimulai.

Mengenal Sosok Elmi Sumarni Ismau

Elmi Sumarni Ismau Sahabat Difabel NTT

Di sebuah sudut di daerah Kupang, ada seorang perempuan yang memilih untuk tidak hanya diam melihat, tetapi turun tangan dan berbuat sesuatu.

Namanya Elmi Sumarni Ismau, sosok yang tidak pernah bermimpi menjadi pahlawan, tetapi kehidupan pelan-pelan mengarahkannya ke sana.

Langkah kehidupannya tidak melintasi jalan yang gemerlap, tapi menyusuri ruang sunyi tempat cerita manusia sering berhenti tanpa pernah didengar.

Difabel di Kupang

Kupang bukan kota yang keras karena angin kencangnya saja. Ia keras karena kenyataan. Dari kecil, Elmi tumbuh di tengah ketimpangan yang terasa wajar. Yang kuat melangkah jauh, yang lemah bertahan di rumah.

Ia sering melihat anak-anak difabel duduk di depan rumah-rumah mereka masing-masing. Pemandangan yang monoton dari hari ke hari.

Bukan karena mereka (para difabel) tidak ingin bermain, tetapi karena dunia tidak memberi ruang untuk menerima mereka.

Tidak ada yang membicarakan itu. Tidak ada yang bertanya. Semua berjalan seakan harus begitu.

Namun, tidak bagi Elmi kecil. Hatinya menolak untuk menganggap pemandangan itu sebagai sesuatu yang normal-normal saja.

Difabel di Sudut Ruang

Suatu hari, ketika menghadiri kegiatan gereja, Elmi melihat seorang anak difabel duduk di sudut dengan kepala tertunduk. Tidak ada yang mendekatinya.

Semua sibuk dengan keramaian, sementara anak itu seolah hidup di dunia berbeda dengan orang-orang di sekitarnya.

Elmi memberanikan diri untuk mendekatinya dan duduk di sampingnya. Tidak banyak kata-kata yang terucap. Namun perhatian kecil tersebut sudah cukup.

“Ternyata yang paling menyakitkan bukan ketidakmampuan berjalan, tetapi ‘keberadaan’ yang ‘tidak dianggap’ ternyata lebih menyakitkan.” kata Elmi, bertahun-tahun setelah pertemuan itu.

Momen kecil itu menjadi awal dari panggilan besar yang belum ia pahami saat itu.

Kisah-Kisah yang Menyentuh

Seiring waktu, ia mendengar lebih banyak cerita. Ada ibu yang menyembunyikan anaknya karena malu. Ada remaja yang berhenti sekolah karena gurunya tidak sabar menghadapi keterbatasan fisik muridnya. Ada pemuda yang bertahun-tahun tidak keluar rumah karena sudah terlalu sering ditertawakan.

Dari satu kisah ke kisah lain, Elmi sadar... luka terbesar bukan terletak pada tubuh, melainkan pada cara pandang oran-orang di sekitar kita.

Pada awalnya ia merasa ragu. Seperti berada di persimpangan. Apakah harus diam seperti orang-orang lainnya, atau turun tangan dan melakukan sesuatu.

Pada akhirnya ia memilih yang kedua.

Langkah Pertama “Keberanian”

Elmi memulai perjuangannya tanpa modal, tanpa nama organisasi, dan tanpa blueprint program sosial yang sempurna. Ia hanya punya satu hal, “keberanian” untuk mendekat dan mendengar.

Ia mendatangi rumah-rumah, mengajak berbicara keluarga, mengulurkan tangan kepada mereka yang selama ini menutup pintu.

Ia mulai mempertemukan penyintas sunyi dalam pertemuan-pertemuan kecil, lalu pelan-pelan membangun ruang aman sebagai tempat mereka bisa merasa “hadir,” bukan sekadar “ada.”

Dari ruang aman itu, lahirlah komunitas “Sahabat Difabel Kupang.”

Bukan sebuah proyek. Bukan sekadar kegiatan sosial. Tetapi rumah baru bagi mereka yang selama ini kehilangan “alamat” sosial.

Tantangan

Yang paling sulit bukan urusan dana, melainkan urusan pola pikir. Elmi sering dianggap berlebihan karena terlalu peduli dengan orang lain. “Untuk apa capek-capek?” atau “mereka kan kasihan, ya sudah biarkan saja,” adalah kalimat-kalimat yang paling sering ia dengar.

Ada pula keluarga yang takut anaknya “ditampilkan”, karena merasa difabel adalah aib. Ada pejabat yang hanya hadir jika kamera ikut hadir. Tidak sedikit yang memposisikan difabel sebagai objek belas kasihan, bukan subjek kehidupan.

Namun, setiap kali Elmi lelah hampir menyerah, ia kembali teringat wajah anak di pojok ruangan gereja itu, wajah yang hidup bertahun-tahun dalam senyap.

Dan, ia pun kembali tegar, dan terus bertahan.

Harapan

Dampak perjuangannya mulai terlihat pelan-pelan. Ada remaja difabel yang kembali percaya diri berbicara di depan umum. Ada yang berhasil membuat kerajinan dan menjualnya. Ada yang mulai menenun, bukan hanya karena butuh uang, tetapi karena merasa punya kemampuan dan identitas.

Perubahan itu bukan soal angka atau grafik. Itu soal wajah yang kembali percaya, tangan yang kembali terulur, dan bahu yang kembali tegak.

Pada tahun 2021, perjuangannya mendapat pengakuan nasional. Ia terpilih sebagai finalis SATU Indonesia Awards.

Satu Indonesia Awards

Seiring makin banyaknya kegiatan yang ia lakukan bersama Sahabat Difabel Kupang, suara Elmi perlahan mulai terdengar di luar lingkar kecil komunitasnya.

Bukan karena ia mengejar panggung, tetapi karena orang-orang mulai melihat perubahan nyata di wajah para difabel yang dulu menutup diri.

Dari situlah, namanya kemudian direkomendasikan untuk mengikuti SATU Indonesia Awards 2021.

Awalnya, Elmi berpikir dirinya tidak “layak” masuk kompetisi berskala nasional. Dalam benaknya, dirinya hanyalah seorang perempuan dari Nusa Tenggara Timur yang bergerak karena resah dan karena sayang pada sesama, bukan seorang “tokoh inspiratif” seperti yang digambarkan banyak orang.

Namun ketika proses wawancara dan seleksi dimulai, ia sadar: yang dilihat bukan besar kecilnya panggung, melainkan sejauh mana sebuah aksi menyentuh kehidupan.

“Saya hanya ingin mereka merasa ada,” katanya dalam salah satu sesi seleksi.

Kalimat sederhana itu justru menjadi inti dari perjuangannya.

Apa itu SATU Indonesia Awards?

SATU Indonesia Awards adalah penghargaan nasional yang digagas oleh Astra untuk mencari dan mengapresiasi anak muda Indonesia berusia 16–35 tahun yang melakukan gerakan sosial nyata di masyarakat.

Fokusnya bukan pada proposal besar atau teori muluk-muluk, tetapi pada aksi yang benar-benar berjalan di lapangan, membawa manfaat, dan memberdayakan.

Program ini menilai empat hal:

  1. Kebermanfaatan langsung bagi masyarakat
  2. Konsistensi dan keberlanjutan gerakan
  3. Dampak sosial nyata, meski dimulai dari hal kecil
  4. Keaslian niat, bukan sekadar proyek sorotan

Dengan prinsip itu, karya sosial dari daerah terpencil pun memiliki ruang yang sama besarnya dengan program besar di kota-kota maju.

Mengajarkan Kemandirian

Bagi Elmi, difabel bukan berarti “orang yang harus ditolong,” melainkan “yang harus diberi ruang.” Karena baginya, kesetaraan bukan soal kursi roda atau tongkat bantu, tapi soal dihormatinya harga diri seseorang.

Masih banyak anak di pelosok NTT yang belum tersentuh edukasi, belum berani keluar rumah, belum punya nama dalam percakapan publik. Selama masih ada sunyi seperti itu, Elmi merasa pekerjaannya belum selesai.

Ia mungkin tidak berdiri di panggung besar setiap hari, tetapi setiap kali ia mengetuk pintu rumah keluarga difabel, ia sebenarnya sedang mengetuk pintu masa depan yang lebih manusiawi.

Ia adalah pengingat sederhana bahwa, perubahan sering kali lahir bukan dari mereka yang paling kuat, tetapi dari mereka yang paling peka.

No comments:

Post a Comment