Tuesday, August 5, 2025

Wisata ke Jogja Nggak Perlu Rencana Besar, Cukup Jalan Kaki dan Biarkan “Rasa” Menuntunmu

Setelah tiga setengah jam mendengar irama gujes...gujes...gujes... dari roda besi yang beradu dengan rel, kereta akhirnya melambat dan berhenti di Stasiun Tugu.

Suasa di dalam kereta ekonomi Indonesia pada pagi hari
Ilustrasi pemandangan di jendela kereta api ekonomi Indonesia

Pintu otomatis terbuka. Angin Jogja sore itu menyambut pelan. Hangat, tapi tidak menyengat. Seolah kota ini tahu bahwa saya, dan puluhan penumpang lainnya, sedang mencari pelarian kecil dari rutinitas yang menjemukan.

Saya keluar dari stasiun dengan langkah santai, tidak buru-buru. Di seberang jalan, beberapa tukang becak melambaikan tangan, dan sesekali terdengar suara ojek online memanggil nama penumpang lewat aplikasi.

Tapi saya memilih jalan kaki saja. Dari Stasiun Tugu ke Malioboro cuma butuh waktu lima menit. Tapi buat saya, itu lima menit yang selalu terasa magis.

Di kanan kiri, bangunan-bangunan tua masih berdiri, meski beberapa mulai berubah rupa. Suara klakson, pengamen, dan obrolan wisatawan bercampur jadi satu. Tapi anehnya, bukannya bising, suasananya malah terasa akrab. Jogja memang seperti itu, riuh, tapi tetap tenang.

Langit sore mulai berubah warna ketika saya sampai di ujung jalan Malioboro. Trotoarnya sekarang lebar dan nyaman. Bangku-bangku besi berjajar rapi. Di kejauhan, siluet Gunung Merapi menyembul malu-malu di balik awan.

foto Malioboro senja hari
Ilustrasi Malioboro saat senja

Tapi jangan bayangkan Malioboro sebagai tempat yang sunyi. Jalan ini selalu sibuk. Siang hari, panas menyengat kadang membuat peluh bercucuran, tapi tetap saja ramai.

Pedagang kaki lima menjual batik, tas kulit, sandal jepit sablonan, sampai mainan kayu yang berbunyi “tek-tek-tek.” Semua berlomba menawarkan harga terbaik, atau sekadar menyapa ramah meski tahu kita adalah si “rojali” (rombongan jarang beli).

Malamnya, Malioboro berubah jadi tempat nongkrong massal. Lampu-lampu jalan menyala temaram. Ada yang duduk bersantai sambil ngobrol, ada juga yang sekadar ngaso sambil buka bekal atau menyeruput teh botol.

Yang tak pernah absen, pengamen. Ada yang bawa gitar, ada yang main biola, ada yang bawa satu speaker besar dan nyanyi lagu galau sampai mendayu-dayu. Kadang suaranya enak, kadang bikin kita salah tingkah karena pengamen itu berdiri terlalu dekat sambil menyodorkan tempat uang sebelum lagunya selesai.

Jujur saja, kadang saya risih. Tapi Jogja selalu punya cara untuk mengingatkan saya agar tidak terlalu cepat menilai. Bisa jadi, mereka hanya ingin bertahan hidup. Sama seperti kita.

Malam itu, saya menginap di sebuah losmen kecil di Jalan Sosrowijayan. Gang kecil yang masih menyisakan penginapan harga puluhan ribu per malam.

Bukan tempat mewah, tapi cukup buat tidur tenang. Pendinginnya cuma pakai kipas tapi kasurnya cukup empuk, dan di meja kecil ada satu gelas teh manis sebagai sambutan.

Salah satu hal menyenangkan tinggal di daerah ini adalah akses makanan. Keluar gang sedikit, saya sudah bisa memilih: mau lotek hangat dengan bumbu kacang yang medok, nasi kucing di angkringan lengkap dengan sate usus dan tahu bacem, atau kalau ingin begadang tinggal cari angkringan kopi jos.

Suasana malam di angkringan jogja
Ilustrasi Angkringan di Jogja

Kopi (jos) yang disajikan dengan bara api menyala langsung ke dalam gelas. Unik? Iya. Tapi sejak dulu hingga sekarang, dan mungkin besok, kopi ini nggak pernah terasa cocok di lidah saya. Tapi saya tetap minum sedikit, sekadar menghormati tradisi. Sisanya saya seruput air putih sambil duduk menatap lalu lalang motor di ujung gang.

Keesokan paginya, saya kembali menyusuri Malioboro. Kali ini lebih pelan. Saya sempat mampir ke Pasar Beringharjo, pasar legendaris yang aromanya campur aduk antara rempah-rempah, keringat, dan nostalgia.

Di dalam, ada ibu-ibu yang lihai menawar kain batik, dan penjual jamu gendong yang menawarkan segelas beras kencur dengan senyum paling ikhlas.

Di salah satu bangku besi di trotoar, saya duduk cukup lama. Melihat turis asing memotret apapun yang mereka lewati. Melihat pasangan muda duduk berdempetan sambil berbagi tahu bulat. Melihat ibu tua berjalan pelan sambil membawa bakul sayur. Rasanya seperti sedang menonton kehidupan berjalan lewat layar lebar tanpa perlu tiket masuk.

Saya jadi berpikir, mungkin memang tak semua tempat harus punya “wisata hits” atau “spot Instagramable.” Kadang, yang kita butuhkan hanyalah tempat yang membuat kita merasa... cukup.

Malioboro mungkin sudah banyak berubah. Tapi rasanya tetap sama. Hangat, akrab, dan selalu bisa membuat kita merasa pulang, meskipun kita bukan orang Jogja.

Perjalanan singkat ini tak menghadirkan wahana ekstrem, atau spot foto dramatis. Tapi menghadirkan sesuatu yang lebih penting seperti, ruang untuk jeda, ruang untuk mengamati, dan ruang untuk merasa manusia seutuhnya. Dan mungkin, itu yang paling langka di zaman serba cepat ini.

No comments:

Post a Comment