Buat kalian warga Jawa Tengah, khususnya kalian yang tinggal di Pemalang, Kalau kamu lagi ngerasa jenuh, kosong, atau bingung kayak anak ayam kehilangan induknya... cobalah sekali-kali ke tempat wisata kayak WIPPAS. Siapa tahu, yang kamu butuh bukan kafe baru, tapi tatapan polos dari seekor kera yang ngajarin kita cara menikmati hidup….
Saat Sekotak Kacang Membawa Kami ke Kerajaan Kera di Bukit Pemalang
Niatnya cuma satu. Pergi refreshing. Lepas dari sumpeknya rutinitas, polusi pikiran, dan suara notifikasi WhatsApp grup RT yang nggak pernah istirahat. Maka, kami putuskan sekeluarga buat liburan ke alam.
Bukan ke mall, bukan juga ke kafe lucu yang tiap sudutnya kayak setting sinetron remaja. Tapi ke tempat yang… yah, kalau diceritain ke temen-temen kota, mungkin mereka bakal bilang, “Seriusan? Ke hutan isi kera?”
Yup. Kami ke WIPPAS alias Wisata Pangeran Purbaya di Pemalang. Tempat yang dari namanya aja udah berasa kayak lagi buka pintu ke masa kerajaan Jawa kuno.
Tapi jangan salah, bro. Di balik nama agung itu, tersembunyi pengalaman liburan yang... absurd, kocak, sekaligus menyentuh, kayak nonton film keluarga tapi disutradarai oleh alam semesta sendiri.
Liburan Rasa ‘Kacang Garing’, Tapi Penuh Makna
Perjalanan ke WIPPAS cuma sekitar setengah jam dari Pemalang. Tapi vibes-nya langsung beda 180 derajat. Begitu turun dari mobil, kami disambut udara sejuk dan pohon-pohon tinggi menjulang kayak tiang WiFi raksasa yang nyambung langsung ke langit.
Anak-anak udah nggak sabar. Mereka pikir bakal trekking santai. Tapi begitu ngeliat tangga yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah hutang negara, mereka mulai lemas. “Naik ini semua, Mi?” tanya si bungsu. “Iya, Nak. Anggap aja ini versi offline dari game climbing yang kamu mainin di tablet,” jawabku sok bijak padahal napas sendiri udah ngos-ngosan.
Baru beberapa langkah, suara-suara aneh mulai terdengar. Kresek-kresek di semak, “hek hek hek” dari atas pohon, dan... “WAAAAH!!! ADA KERA!” teriak anakku, setengah panik setengah kagum.
Dan benar saja. Dari balik pohon, muncul seekor kera ekor panjang, dengan ekspresi penuh selidik, kayak satpam komplek ngeliatin motor nggak dikenal masuk gang.
Matanya fokus ke… kantong plastik kami. Ah, kacang. Kami bawa satu bungkus dari pedagang di bawah, cuma lima ribu. Tapi seketika itu juga, kacang ini naik level. Bukan lagi sekadar camilan, tapi jadi mata uang buat berinteraksi sama penduduk asli bukit ini.
Kera-Kera WIPPAS: Antara Sopan Santun dan Geng Rebutan
Interaksi pertama, cukup damai. Kami sodorkan kacang pelan-pelan, si kera pun mengambil dengan anggun, lalu duduk sambil makan seperti manusia lagi nunggu ojol.
Tapi, damai itu fana. Lima menit kemudian, geng kera muncul. Serius, bro. Sekawanan dengan gaya jalan yang kayak preman pasar cari rokok.
Anak-anak mulai panik. Aku pun berdiri di antara mereka dan kacang, niat jadi benteng terakhir. Tapi lucunya, si kera-kera ini cuma rebutan kacang, bukan manusia.
Bahkan satu kera kecil narik-narik celana anakku sambil nunjuk ke arah kantong. “Dia minta jatah,” kata anakku, masih shock. “Bilang aja, sabar, antre!” sahutku, sambil nyodorin lagi sebiji kacang.
Kami ketawa. Bukan karena lucu doang, tapi karena momen ini aneh banget tapi nyata. Ada kedekatan yang muncul antara manusia dan makhluk yang katanya liar. Ternyata, sisi liar itu bisa jadi jinak… kalau dikasih kacang. Dan kasih.
Pelajaran dari Kera: Tentang Berbagi, Tanggung Jawab, dan Empati
Setiap kacang yang kami berikan, ada tatapan yang kami terima. Tatapan si kera, kadang nakal, kadang polos, kadang kayak nyimak ceramah Ustaz.
Anak-anakku, yang awalnya takut, pelan-pelan mulai santai. Bahkan mulai kasih nama ke setiap kera yang datang. “Itu yang gendut namanya Gembul ya, Mi,” kata si sulung. “Yang jalannya miring itu Rambo,” timpal si bungsu. “Yang ngintip dari atas itu kayak tukang gosip, Mi. Kita panggil aja si Crewet,”
Dan dari sana, kami bukan cuma kasih makan. Kami belajar. Tentang bagaimana memperlakukan makhluk lain dengan kasih. Tentang tanggung jawab menjaga makanan supaya nggak direbut. Tentang empati pada mereka yang hidup di alam yang kadang harus berbagi ruang dengan manusia.
Dari Makam Pangeran ke Bukit Kera: Liburan Multiverse Rasa Nusantara
Jangan lupakan fakta bahwa di atas sana ada makam Pangeran Purbaya. Tempat ini bukan sekadar taman hiburan, tapi juga punya nilai religi dan sejarah. Bayangkan: satu sisi spiritual, satu sisi hewan liar yang ngemil kacang. Kombinasi yang cuma bisa kamu temukan di Indonesia, khususnya, Pemalang.
Kami sempat mampir sejenak, menunduk, membaca doa dalam hati. Lalu berbalik lagi ke kerumunan kera yang lagi sibuk rebutan kacang terakhir. “Kayaknya mereka juga berdoa... minta refill,” gumam suamiku. Aku cuma bisa ketawa, sambil mikir, “Dunia ini aneh ya, tapi indah.”
Akhir Liburan: Pulang dengan Bekas Cakar, Tapi Hati Penuh
Sebelum turun, kami duduk sebentar di atas batu besar. Satu kera kecil datang, duduk di dekat kaki anakku. Dia nggak minta kacang, cuma duduk. Mungkin dia juga lelah. Kami saling pandang sebentar, lalu dia pergi. Anakku tersenyum. “Mi, tadi dia bilang makasih, loh.” “Dia ngomong apa?” tanyaku. “Enggak ngomong. Tapi aku ngerti.”
Dan saat itulah aku sadar: liburan ini mungkin nggak mewah. Nggak pakai AC, nggak ada kolam renang. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam. Koneksi dengan alam. Dengan keluarga. Dan dengan sisi liar yang ternyata nggak selalu buas.
WIPPAS, tempat yang awalnya terdengar seperti nama klub bola antah-berantah, ternyata adalah panggung kecil tempat semesta mempertemukan kami dengan cerita yang nggak akan ditemukan di brosur travel.

No comments:
Post a Comment